Halaman

Kamis, 28 Januari 2016

Recommended: Sang Guru, Haidar Musyafa

              Sang Guru, ditulis oleh Haidar Musyafa yang bercerita tentang biografi Ki Hadjar Dewantara, kehidupan, pemikiran dan perjuangan pendiri Tamansiswa. Bagi kalian yang suka baca novel/buku, saya sangat menyarankan untuk membaca novel ini...        
          
Sebelum saya membaca novel ini, saya mengenal KHD melalui pelajaran sejarah dan beberapa artikel yang pernah saya baca. saya cenderung tidak terlalu "ingin tahu" tentang KHD. Bahkan awal melihat novel ini saya tidak tertarik, tapi karena waktu itu membosankan dan kebetulan buku ini tidak dibaca yang punya ya saya baca.

Ternyata saya kecanduan dengan buku ini, isinya sangat menarik bagi saya. Karena yang punya belum selesai membaca jadi saya harus dtg kermhnya hanya untuk baca novel ini. Tapi saya juga merasa bersalah, karena yang baca 2 org halamannya jadi banyak yg terlipat untuk menandai halaman yg terakhir dibaca.             

Dan setelah saya membca novel ini saya sgt terharu dan kagum dgn perjuangan seorang KHD dlm mewujudkan gagasan2nya di bidang pendidikan. Beliau yg sangat mencintai seni dan sastra adlah seorang yg bersifat tegas dan keras namun tetap lembut. Kecintaannya trhdp bangsa dan tanah air telah membawanya keluar masuk penjara bahkan sempat diasingkan ke negeri belanda. Tapi beliau tdk pernah pts asa dlm mewujudkan cita2nya.          

  Siang ini saya telah selesai membaca novel sang guru. Sama seperti patah hati ketika putus cinta, saya juga patah hati ketika membaca epilog novel Sang Guru. Hati saya hancur dan saya sangat merasa kehilangan Ki Hajar Dewantara. Mungkin karena terlalu tenggelam kedalam kisahnya, saya seakan tidak mau kisah beliau berhenti sampai disini.  ada sebuah percakapan yg membuat hati saya trenyuh di epilog novel tsb, begini kiranya "Mengapa engkau sedih Nyi?! bukankah setiap yg bernyawa pasti akan mati, kembali kepada Dzat Yang Maha Hidup?" Kata Ki Hadjar yg nyaris tk terdengar. "Yang akan mati ini bukan Ki Hadjar, Nyi! Bukan Ki Hadjar Dewantara yg mati! Yang akan pergi ini hanya wadah. Ki Hadjar Dewantara akan tetap hidup di hati rakyat Indonesia, Nyi!"entah kenapa membaca kata2 tsb membuat saya meneteskan air mata dan sungguh saya sgt merasa kehilangan.

Tentang Make Up dan Semangat


 hai haihai, sudah lama ya saya nggak nposting di blog ini. sudah usang dan banyak debunya. and now i'm backkkk! oi skrg saya sudah kelas 11 lhooo, dan seingat saya terakhir kali ngepost disini waktu saya masih kelas 9.
sebagai pembukaan atas kembalinya saya, saya mau ngomongin masalah make up. wajarlah saya kan cewek, jadi nggak bisa jauh2 amat sama make up. walaupun saya nggak terlalu suka bermakeup. oh ya, tulisan saya ini sebelumnya sudah pernah dimuat di http://tulungagunginfo52.blogspot.co.id dengan judul "Make Up dan Semangat Untuk Mencoba" tapi saya juga ingin nge post disini. di blog pribadi saya.



Make up? tahunya cuma bedak, pensil alis sama pelembab, udah!!. Gak Masalah, toh ketiganya juga termasuk alat make up. Selain ketiga benda itu pengetahuan saya tentang make up benar-benar cethek. Apalagi masalah merknya, saya benar-benar kurang paham. Ya jadi jangan bahas soal merk-merk make up sama saya lah.. Gak bakal nyambung, sumpah! 


Bicara masalah make up, akhir-akhir ini tepatnya setahun terakhir saya jadi akrab dengan mereka. Kenapa? Karena kalau ada tanggapan ya harus dimake up. oh iya, sudah satu tahun ini saya gabung dengan grup reog Ponorogo Cahaya Budaya. Jadi mau ndak mau saya harus dirias ketika akan pentas. walaupun masih nggak ngeh beda merk satu dengan lainnya, pokoknya kalau yang satu dipakai lebih bagus daripada yang satunya berarti itu merknya lebih bagus dan mahal haahahaa. Bener tho?



Dulu, kalau ada pementasan selalu dimake up sama orang lain, tapi lama kelamaan saya mulai belajar lah sedikit2. Kan nggak enak juga kalau setiap pentas ngrepotin orang,nanti malah di bilang "uwong kok panggah ngrepoti ae" Pernah ada kejadian, waktu itu grub kami (read: reog ponorogo) ditanggap sama orang disuruh ikut karnaval. Kebetulan besoknya ada tanggapan lain jadi para penari cewek (read: jathil) disarankan nggak ikut karnaval tsb, toh cuma jalan. Nanti capek katanya. 

Saya dan teman-temanpun setuju untuk nggak ikut karnaval. Tapi kami diberi tugas untuk merias para cewek yang menggantikan kami, kan g asyik kalau reog ponorogo tanpa jathil. Waktu itu saya nekat mau merias seekor anak orang, padahal merias diri sendiri saja masih belepotan. Tapi entah apa yang saya fikirkan, saya benar2 pengen nyoba, kan nggak salah. kapan lagi ada orang yang mau saya rias?? untuk persiapam sebelum hari-H saya mencoba merias keponakan sebagai bahan percobaan. kalau difikir kok mau2nya gitu keponakan saya dipakai sebagai kelinci percobaan. tentu saja saat itu saya bersyukur karena dia mau, soalnya saya nggak punya stok mau membohongi siapa lagi kalau bukan dia HAHAHAHA *ketawajahat*. 


Besoknya, dengan tekad dan semangat 45 layaknya mau ketemu gebetan, saya merealisasikan keinginan untuk merias orang. Hasilnya? jedeeerrrrr Jangaan tanya, ancurrrrrr, hati saya juga hancur wktu lihat hasilnya, rasanya kayak pas tahu mantan pacar sudah punya pacar baruu *ehhhhh. waktu saya sadar, ternyata saya nggak bisa merias orang huhu,



Setelah kejadian itu saya nggak pernah membiarkan tangan saya ini merias orang, karena saya takut nanti hancur lagi. sama kayak saya yang nggak mau balikan sama mantan, karna takut endingnya bakal sama, kayak baca buku yg sama dua kali, sorry jadi curhat. but, i must move on cz show must go on. Karena saya masih penasaran, saya memutuskan untuk belajar, belajaaar dan belajar. tapi kali ini dengan wajah sendiri. taulah saya nggak tega bo'ongin ponakan lagi, kasian. hasilnya sekarang saya sudah bisa. yeeeeee

Iya saya sudah bisa rias sendiri maupun merias orang. Hasilnya ya nggak bisa halus banget kayak di salon2 mahal, tapi saya cukup puaslah.



Saya berharap kalian juga sama, jangan cepat menyerah dengan apa yang kalian inginkan. seperti saya, awalnya benar2 nggak bisa dan nggak ngerti apa2, bahkan pernah gagal tapi tetap berusaha sampai pada titik dimana saya mendapatkan hasil dari usaha tersebut. 


Gagal dan usaha lagi bagi saya seperti tahu kalau pacaran bakal sakit waktu putusnya tapi tetep pengen nyoba haha. termasuk proses untuk mencapai titik ini, bukan hanya dalam urusan make up tapi juga untuk urusan yang lain. mantan misalnya. intinya jangan takut dengan kegagalan, tetap berusaha itu penting. duh kok mulek yo..

 saya lagi make up in temen.