Sang Guru, ditulis oleh Haidar Musyafa yang bercerita tentang biografi Ki Hadjar Dewantara, kehidupan, pemikiran dan perjuangan pendiri Tamansiswa. Bagi kalian yang suka baca novel/buku, saya sangat menyarankan untuk membaca novel ini...
Sebelum saya membaca novel ini, saya mengenal KHD melalui pelajaran sejarah dan beberapa artikel yang pernah saya baca. saya cenderung tidak terlalu "ingin tahu" tentang KHD. Bahkan awal melihat novel ini saya tidak tertarik, tapi karena waktu itu membosankan dan kebetulan buku ini tidak dibaca yang punya ya saya baca.
Ternyata saya kecanduan dengan buku ini, isinya sangat menarik bagi saya. Karena yang punya belum selesai membaca jadi saya harus dtg kermhnya hanya untuk baca novel ini. Tapi saya juga merasa bersalah, karena yang baca 2 org halamannya jadi banyak yg terlipat untuk menandai halaman yg terakhir dibaca.
Dan setelah saya membca novel ini saya sgt terharu dan kagum dgn perjuangan seorang KHD dlm mewujudkan gagasan2nya di bidang pendidikan. Beliau yg sangat mencintai seni dan sastra adlah seorang yg bersifat tegas dan keras namun tetap lembut. Kecintaannya trhdp bangsa dan tanah air telah membawanya keluar masuk penjara bahkan sempat diasingkan ke negeri belanda. Tapi beliau tdk pernah pts asa dlm mewujudkan cita2nya.
Siang ini saya telah selesai membaca novel sang guru. Sama seperti patah hati ketika putus cinta, saya juga patah hati ketika membaca epilog novel Sang Guru. Hati saya hancur dan saya sangat merasa kehilangan Ki Hajar Dewantara. Mungkin karena terlalu tenggelam kedalam kisahnya, saya seakan tidak mau kisah beliau berhenti sampai disini. ada sebuah percakapan yg membuat hati saya trenyuh di epilog novel tsb, begini kiranya "Mengapa engkau sedih Nyi?! bukankah setiap yg bernyawa pasti akan mati, kembali kepada Dzat Yang Maha Hidup?" Kata Ki Hadjar yg nyaris tk terdengar. "Yang akan mati ini bukan Ki Hadjar, Nyi! Bukan Ki Hadjar Dewantara yg mati! Yang akan pergi ini hanya wadah. Ki Hadjar Dewantara akan tetap hidup di hati rakyat Indonesia, Nyi!"entah kenapa membaca kata2 tsb membuat saya meneteskan air mata dan sungguh saya sgt merasa kehilangan.
Sebelum saya membaca novel ini, saya mengenal KHD melalui pelajaran sejarah dan beberapa artikel yang pernah saya baca. saya cenderung tidak terlalu "ingin tahu" tentang KHD. Bahkan awal melihat novel ini saya tidak tertarik, tapi karena waktu itu membosankan dan kebetulan buku ini tidak dibaca yang punya ya saya baca.
Ternyata saya kecanduan dengan buku ini, isinya sangat menarik bagi saya. Karena yang punya belum selesai membaca jadi saya harus dtg kermhnya hanya untuk baca novel ini. Tapi saya juga merasa bersalah, karena yang baca 2 org halamannya jadi banyak yg terlipat untuk menandai halaman yg terakhir dibaca.
Dan setelah saya membca novel ini saya sgt terharu dan kagum dgn perjuangan seorang KHD dlm mewujudkan gagasan2nya di bidang pendidikan. Beliau yg sangat mencintai seni dan sastra adlah seorang yg bersifat tegas dan keras namun tetap lembut. Kecintaannya trhdp bangsa dan tanah air telah membawanya keluar masuk penjara bahkan sempat diasingkan ke negeri belanda. Tapi beliau tdk pernah pts asa dlm mewujudkan cita2nya.
Siang ini saya telah selesai membaca novel sang guru. Sama seperti patah hati ketika putus cinta, saya juga patah hati ketika membaca epilog novel Sang Guru. Hati saya hancur dan saya sangat merasa kehilangan Ki Hajar Dewantara. Mungkin karena terlalu tenggelam kedalam kisahnya, saya seakan tidak mau kisah beliau berhenti sampai disini. ada sebuah percakapan yg membuat hati saya trenyuh di epilog novel tsb, begini kiranya "Mengapa engkau sedih Nyi?! bukankah setiap yg bernyawa pasti akan mati, kembali kepada Dzat Yang Maha Hidup?" Kata Ki Hadjar yg nyaris tk terdengar. "Yang akan mati ini bukan Ki Hadjar, Nyi! Bukan Ki Hadjar Dewantara yg mati! Yang akan pergi ini hanya wadah. Ki Hadjar Dewantara akan tetap hidup di hati rakyat Indonesia, Nyi!"entah kenapa membaca kata2 tsb membuat saya meneteskan air mata dan sungguh saya sgt merasa kehilangan.


