Halaman

Sabtu, 17 Desember 2016

#100SuratUntukIbu






Untuk Ibu

Bu, bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap ibu baik-baik saja.
Bu, Aku tidak pandai merangkai kata, pun syair-syair indah, juga mengungkap perasaanku padamu. Tapi kali ini aku akan mencoba menyampaikan sesuatu melalui sepucuk surat ini.

Bu, terimakasih. Karena telah melahirkanku, merawatku, menyanyangiku dan segala yang kau beri untukku. Aku mungkin tak pernah mengucapkannya secara langsung. Tapi bu, percayalah aku selalu berterimakasih kepadamu. Aku bangga lahir dari rahimmu, aku bangga punya ibu seperti engkau.

Bu, maafkan aku. Anakmu yang nakal ini selalu membuatmu marah, mungkin hingga meneteskan air mata. Anakmu yang brandal ini belum pernah membuatmu bangga. Aku tahu ribuan maaf tak mampu menebus kesalahanku. Tapi bu, aku juga tahu kau selalu memaafkanku dan mendoakanku.

Bu, dua tahun sudah kita tak berjumpa. Demi menyekolahkan kami (read: anak-anakmu) engkau bekerja nun jauh. Pengorbanan dan perjuanganmu begitu luar biasa. Aku tahu rasanya pasti berat jauh dari keluarga dan rumah. Tapi aku tau, ibuku kuat, engkau pasti sanggup melewati semua itu. Ibuku terhebat.

Bu, taukah engkau? Kadang aku berharap kau tak perlu bekerja sejauh itu, aku berharap engkau disini. Mendengar keluh kesahku tentang pelajaran, hari-hari yang kulewati di sekolah, atapun mendengar cerita bahwa ada seseorang yang membuatku berbunga-bunga. Bu, Aku rindu mendengar suara tawamu, masakanmu, bahkan aku rindu engkau marahi.

Ibu, Aku rindu.

Dari Anakmu.

#100SuratUntukIbu


https://mobile.facebook.com/PenaAnandaClub/photos/a.1036267466481889.1073741851.155959394512705/1041663129275656/?type=3&refid=17&_ft_=top_level_post_id.1041663129275656%3Atl_objid.1041663129275656%3Athid.100000482012097%3A306061129499414%3A4%3A0%3A1483257599%3A1876808047511745682&__tn__=E

Rabu, 27 April 2016

Karena Ngopi gak Harus Kopi



Akhir-akhir ini sedang marak pembicaraan tentang kopi sianida. Di televisi, medsos bahkan di sekolahku pun banyak yang membicarakan tentang berita tsb. Hm, jadi saya rasa kalian pasti tahu tentang berita itu. Kalaupun belum tahu, silahkan cari di google dengan kata kunci kopi sianida. Saya yakin banyak artikel yang membahasnya.
Ngomong-ngomong tentang kopi, minuman hitam yang satu ini memang banyak digemari orang. Entah  itu laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun remaja. Kalau seharian belum minum kopi, kata mereka belum lengkap rasanya. Saya sendiri tidak terlalu menggemari kopi. Mungkin ada yg salah dengan lidahku, begitu kata salah seorang teman. Tapi  Saya lebih menganggap hal tersebut adalah takdir Illahi hahaha
Nah dewasa ini banyak berdiri warung kopi. Saya rasa di kota seluruh Indonesia pasti ada warung kopinya. Di tulungagung? Ada. Di Ngunut? Wah jangan Tanya. Banyak. Jenis warung kopi juga beragam, mulai dari rumah dan warung yang jadi satu, cafe, bahkan ada juga yang di trotoar.
Walaupun saya bukan penggemar kopi saya juga pernah ngopi di luar kok. karena filosofi saya berbunyi “ ngopi nggak harus pesen kopi” hahahaa


Gambar dari google
Kalau menurut pengamatan saya, tidak semua remaja yg gemar ngopi di warkop penyuka kopi. Terkadang mereka hanya ingin ngumpul atau sekedar bercengkrama, bahkan ada juga yg hanya nyari wifi gratis. Karena memang banyak warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi gratis untuk menggaet pelanggan. Apalagi  hanya dengan membayar kurang dari Rp 5000,- mereka dapat menggunakan layanan internet sepuasnya sambil menikmati minuman yang dipesan dan ngumpul bareng teman. Mereka biasanya tidak terlalu peduli dengan rasa kopi yang disajikan, bahkan lebih sering memesan minuman lain selain kopi. Yah, saya rasa ndak masalah. Toh ndak dosa juga.
Lain lagi bila yang ngopi memang benar-benar penggemar kopi. Mereka biasanya lebih mementingkan rasa. Jujur saja, lidahku yg katanya bermasalah ini juga ndak dapat membedakan kopi satu dengan kopi lainya, sama seperti saya yang nggak bisa membedakan merk makeup satu dengan yg lain.
Saya ambil contoh yang dekat saja. Kakungku. Beliau termasuk penggemar kopi. Dari saya kecil sampai sekarang pun tempat beliau ngopi ya tetap. Itu lho warung kopi Pak Raji, dekat Lapangan Pema, Ngunut. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta dengan kopi Pak Raji. pasalnya saya juga belum pernah mencoba kopi disana, makanya saya ndak tau.
Dulu sewaktu masih kecil, saya sering diajak ngopi disana. Kopi di warung Pak Raji ndak mengandung sianida kok. Jadi dijamin aman. Saya masih ingat, saya selalu dipesankan teh hangat bila ikut ngopi. yang tidak pernah ketinggalan, ketika pulang selalu dibelikan kacang asin yang dibungkus kertas warna-warni berbentuk segitiga haha. Walaupun ngopinya sama teman2 kakung yang notabene sudah pada tua tapi saya sangat bersemangat bila diajak ngopi. Biasanya kegiatan ngopi kami dilakukan pada hari minggu pagi, tentunya karena saya libur sekolah. Tapi sayangnya, sekarang saya sudah ndak pernah ngopi sama kakung lagi. Mungkin karena saya yang sekarang sudah remaja. Yang setiap minggu paginya lebih memilih tidur ataupun berkegiatan lain dari pada ikut ngopi kakung. Kadang kangen juga sama kacang asin disana..
Menurut saya ada yang lucu ketika budaya ngopi diluar sudah mendarah daging. Meskipun sudah minum kopi di rumah katanya belum minum kopi kalau belum  ngopi diluar. Kira-kira apa kalian juga seperti itu? Entah apa yang membuatnya berbeda, padahal sama2 bubuk kopi, gula dan air panas sebagai bahan dasarnya. Seandainya kalian tahu, boleh menghubungiku dan menjelaskan.
Hmm, Jadi sudahkah kalian minum kopi hari ini?

NB: ttg filosofi yang diatas tadi Cuma ngawur, tapi saya benar2 menggunakan filosofi tsb dan saya pegang teguh hingga saat ini. Belum pernah sekalipun saya ngopi pesen kopi hitam.

Perjalanan Panjang menjadi Announcer di Radio SMA N 1 Ngunut


 Sekolahku tahun ini punya Kepala Sekolah baru dan radio baru. Oh ya, saya bersekolah di SMA Negeri 1 Ngunut. Ngomong-ngomong masalah yang baru-baru, jangan sampe kalian nanya kapan saya punya pacar baru..

Kali ini saya bakal cerita tentang radio baru. Hm, kenapa bukan cerita tentang kepsek baru nya? Ya sebenarnya suka-suka saya sih mau cerita yang mana, tapi kalau kalian masih ngotot pengen tau, alasannya karena saya tertarik dengan dunia keradioan.
Jadi beberapa hari setelah peresmian radio. Ada pengumuman bahwa dicari announcer untuk radio sekolah. Otomatis dong, saya yang notabene tertarik sama dunia keradioan sama kayak saya tertarik sama kamu, langsung daftar jadi pacar kamu. Eh, jadi announcer ding. Waktu itu yang daftar ada 2 orang dari kelasku. Yaitu saya dan ketua kelas, namanya Junda.

Satu minggu setelah pendaftaran, tepatnya hari Kamis, saya diberitahu bahwa besok ada tes untuk announcer. “Bril, sesok bar jum’atan tes vocal ngge penyiar radio.” Kata Junda. Hah? Tes? Tes vocal? “oi jun, tes vocal kui sing piye sih?” “alah mek kon ngomong kaya wong siaran, sing diomongne bebas. Mengko direkam terus diseleksi.” Ohhhhhhh, sumpah pertama kali saya denger tes vocal, yang ada dibenak saya adalah disuruh nyanyi hahahaa. Dan syukurlah ternyata bukan, karena sadar, saya ini nggak bisa nyanyi. Jadi kalau sampe dites nyanyi kemungkinan lolos Cuma 0,000000099% serius deh. Tapi tetep aja waktu itu saya panic, keringet dingin, kejang-kejang, gelap……… becanda. Waktu itu saya Cuma merem, makanya gelap. Dan sekarang masalahnya adalah saya nggak tau dan nggak pernah siaran sama sekali.

Sampe rumah saya inget kalau salah satu omku pernah jadi announcer. Langsung aja tak bbm dan curhat tentang saya yang nekat daftar jadi announcer di radio sekolah, betapa nggak PD-nya. grogi, dan apakah punya peluang serta mampu buat jadi seorang announcer? Awalnya saya kira bakal dibecandain, karena kebiasaan sih kalau saya lagi serius malah dibecandain. Tapi ternyata dugaan saya salah. Saya malah dikuliahin panjang kali lebar sama dengan luas. “sik, kabeh kui nduwe peluang nang ngendi ae. Tergantung kemauanmu. Lek masalah kemampuan iso dipelajari sakwise awakmu ndue kemauan. Gedekne niatmu disik. Ora oleh wedi, ora oleh grogi.” Oke, saya sangat termotivasi setelah baca bbm tersebut. “pertama lan sing utama iku public speaking mu. Pas awakmu ngomong gawe wong akeh kui piye, iso dirungokne gak, iso dinikmati karo uwong gak, intonasi pas ngomong diperhatikan, ekspresi, caramu merespon sekitar, aja cengengesan gak jelas. Pokok announcer iku kudu peka.” Begitulah kira-kira bbm dari omku, kayaknya sih masih panjang, tapi saya lupa.
Besoknya saya masih bingung mau ngomongin apa. Rencananya sih, saya mau ngomongin novel yang baru selesai saya baca. Tapi kayaknya kok berat banget gitu topiknya, saya pengen sesuatu yang agak santai lah. Dan tiba-tiba saya ingat sama artikel yang saya tulis kemarin dulu tentang make up yang juga pernah dipost di sini. Akhirnya saya memutuskan untuk ngebahas masalah makeup pada saat tes vocal nanti.

Sampailah pada saat yang menegangkan siang itu, namaku dipanggil buat tes. Oke, I must do it and I can do it! Apalagi saya sudah janji, saya nggak bakal grogi ataupun takut. Tapi apalah dayaku yang hanya manusia biasa ini.. grogi? tetap, jantung berdetak kencang? Iya, saat memasuki ruangan itu, dan adrenalin saya berada pada puncaknya. Berasa mau ketemu gebetan baru duh



Kesan pertama saat masuk ruang siaran adalah ruangannya dingin. Setelah mengisi daftar hadir dan duduk ditempat yang sudah disediakan. Tanganku bergetar. Di ruangan itu ada 3 orang anak manusia, yaitu saya dan 2 panitia dari OSIS. “sudah siap?” Tanya salah satu anak OSIS. “Sik lah, tak ambegan…….. saiki aku siap!” hm, tenang.. calm down.. ini hanya ngomong depan mic, nggak bakal masuk radio, Cuma direkam untuk diseleksi. Begitu kiranya yang saya fikirkan untuk menenangkan diri. Dan ngoceh pun dimulai !!!. Lama kelamaan saya menikmati apa yang saya lakukan. Tapi memang tidak semua yang ada di hidup ini sesuai seperti yang kita inginkan. misalnya saya suka sama kamu tapi kamu nggak suka sama saya, *loh? Oke sorry OOT. Iya jadi waktu lagi asik ngoceh ada anak OSIS yang tiba-tiba masuk ruangan dan bilang “hehhhh!!! Siarane mlebu radio, di rungokne streamingan yo kenek. Aku tas ngrungokne, sopo sing sek tas siaran?” deg! Saya panic, artinya dari tadi saya didengerin orang luar, speechless, grogi, gugup, lupa tadi dari mana ceritanya duh..
Katanya nanti kalau lolos tahap pertama, tes vocal ini bakal dapat SMS dari panitia dan lanjut ke tahap berikutnya. Saya nunggu sampai Sabtu malam nggak ada SMS yang masuk, setiap ada SMS saya ‘ndredeg’ tapi ternyata SMS operator, oke saya kecewa setiap operator yang SMS. Saya curhat lagi sama omku, “Om, kaya e aku ora lolos tes wingi. Aku grogi, speechless gek msok ket saiki aku ora diSMS panitia.” Tak lama kemudian, “announcer kok pesimis.” “lha ket saiki aku ora diSMS lho:’(“ saya tambah emoticon nangis dibelakang biar agak drama ceritanya. “dadi uwong iku sing sabar.” Saya sudah gak terlalu berharap lagi buat jadi announcer, sama kayak saya yang sekarang udah nggak terlalu berharap kamu bakal suka sama aku.
Keesokan harinya, waktu bangun tidur saya langsung cari HP. Yah biasalah kan masih termasuk remaja yang bangun tidur langsung cek HP. Dengan mata masik belekan dan belum sadar sepenuhnya, saya lihat ada pesan masuk di HP. Ternyata pesan dari panitia, yang isinya pemberitahuan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya yang akan dilakukan hari jum’at depan. Ah saya langsung bangun dan saya baca lagi SMS tsb, dan saya senaaaaaaaaang sekali hahahaha. Berasa kayak dapat ucapan selamat pagi dari kamu. Langsung deh saya kasih tau om, dengan maksud mencari dukungan darinya.

Hari-haripun berlalu, ternyata tes tahap selanjutnya adalah tes wawancara. Oke, saya belum pernah wawancara, dan agak takut. Bayangan apa saja yang akan ditanyakan dalam wawancara sangat menakutkan. Akhirnya bbm lagi ke om, yah siapa tahu ada sedikit pencerahan tentang wawancara. “om, sok jum’at aku tes wawancara. Tes wawancara kui piye? Aku kudu piye?” “tes wawancara iku lek enek pertanyaan yo jawaben.” Sayaa gondok. Sebel. Saya malas balas bbmnya. kalau itu saya juga tau kali, memang benar apa yang dikatakan omku, tapi sayakan pengennya bukan jawaban seperti itu hu.
Pada hari H tes wawancara, saya kira bakal dibentak-bentak atau akan diintimidasi oleh pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara tapi ternyata saya salah. Wawancara hari itu suasanya asyik, yang mewawancarai adalah salah seorang guru olahraga yang juga seorang penyiar dan manager di salah satu radio di Tulungagung. Pertanyaan yang diajukan cukup mudah dan saya menjawab dengan lancar. Selesailah tahap tes kedua ini.
Sama seperti sebelumnya, apabila lolos tahap kedua akan diSMS oleh panitia. menunggu lagi. Dan saya, masih sama kayak manusia-manusia lain yang nggak suka menunggu. Tiap hari deg2an kalau ada SMS masuk. 3 hari berlalu dengan saya yang masih menunggu, rasa pesimis itu muncul lagi. Kadang saya iri dengan mereka yang bisa berfikir positif, optimis, dan selalu percaya diri. Saya berharap bisa jadi orang yang seperti itu. Ah sudahlah, paling tidak saya berani untuk mencoba, toh kalaupun tidak lolos, saya sudah dapat pengalaman. Mungkin bukan passion saya, bukan bakat saya menjadi bagian dari dunia keradioan.
Sama seperti yang pertama, ketika saya sudah tidak berharap lagi, saya dapat SMS yang berisi tentang ucapan selamat, akhirnya saya masuk menjadi team keradioan sekolah. Oh, syukurlah. Saya senang sekali tentunya. Tapi sayangnya belum resmi jadi seorang announcer, karena untuk menjadi seorang announcer perlu di seleksi lagi. Diseleksi sambil jalan katanya. Lagi pula di dunia keradioan itu tidak hanya melulu tentang announcer, ada penulis berita, pewawancara, dan bagian-bagian lain yang tak kalah penting dengan seorang penyiar, walaupun hanya berada dibelakang layar. Tapi tetap saja, saya benar-benar kepengen jadi seorang announcer.

Kebetulan hari Sab’tu kemarin di sekolahku ada CampusFair, dan team radio bertugas menyiarkan acara tersebut. Saya adalah salah satu yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk siaran perdana hahaha. Oh ya dan juga hari ini, tepatnya hari Selasa pada jam istirahat saya berkesempatan untuk mewawancarai seorang kakak kelas. Hm, wawancara hari ini sebenarnya sangat tidak direncanakan alias dadakan. Saya belum menyiapkan pertanyaan apapun, Karena memang ‘ndadak’. Ini adalah pengalaman pertama saya mewawancarai orang secara langsung, biasanya kalau ada tugas wawancara di mapel Bahasa Indonesia kan ada persiapannya sedangkan tadi itu tidak ada persiapan sama sekali. Hmmm, agak grogi, dan sempat kesleo lidah pas penutupan hahaaa. Tapi untuk sesuatu yang dadakan dan pertama kali saya lakukan, saya kira nilainya 79 lah..

Saya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih optimis lagi, selalu berfikian positif. Sama seperti yang dikatakan omku, tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting niat. Usaha dan do’a juga sangat penting. Saya rasa merasa grogi, takut dan nggak PD itu manusiawi, siapa sih yang nggak pernah merasakannya? Kalian pasti juga pernah kan. Tinggal bagaimana kita mengatasi perasaan tsb, karena kita harus, wajib dan kudu bisa mengatasi mereka agar kita berani mencoba dan melakukan hal2 yang luar biasa. saya juga berharap saya bisa jadi announcer di radio sekolah. Aamiinin lah..

Camping di Pantai Pangi

Liburan beberapa waktu yang lalu bisa dibilang sangat berkesan. Kenapa? Karena liburan kemarin banyak pengalaman baru yang kuperoleh. Aku sempat pergi ke beberapa pantai di tulungagung, juga camping di gunung budheg. Aku nggak tau kenapa namanya gunung.padahal tidak terlalu tinggi untuk bisa disebut gunung, kalau tentang nama budheg setahuku ada legenda bahwa dahulu disana ada seorang pemuda yg bernama jaka budheg. tapi ceritaku kali ini tidak menceritakan pengalaman camping di gunung budheg, tapi tentang pengalamanku camping di pantai pangi….

Pantai pangi adalah salah satu pantai di selatan kota blitar.
Saat itu jumat sore, hpku berbunyi. “ayo nduk sesok melu aku camp ning pantai” begitu sms yang ku terima. Tentu saja aku sangat bersemangat ketika diajak camping di pantai, karena aku belum pernah merasakan, katanya bagus dan bikin ketagihan. Tapi kalau cuma katanya kan ya nggak marem. Iya tho?
Sms itu aku dapat dari mbak Niken, kakak kelas waktu SMP. Hubungan kami masih cukup dekat sampai sekarang, walau kami tidak satu sekolah lagi di SMA. Ceritanya mbak Niken dan kawan-kawannya mau ngadain acara perpisahan karena mereka akan kuliah di kota yang berbeda-beda (mbak Niken dkk ini baru lulus SMA). Saat itu juga aku langsung meng-iya-kan ajakan mbak Niken.
Malamnya aku berpamitan kepada ibuku, waktu itu ayahku sedang kerja keluar kota. Jadi ya aku Cuma berpamitan sama ibu. “buk aku sesok melu camping Mbak Niken ning Blitar, paling mulihku sok emben rodok sore” seperti biasa ibu selalu memperolehkan aku pergi tapi tidak lupa diiringi dengan petuah yang sama setiap aku mau pergi yang sekiranya agak jauh atau agak lama, begini kira-kira
“iyo oleh, ibuk ora arep nglarang awakmu lek arep dolan. Ning ya kudu jelas nandi parane, kudu eroh batesane cah wedhok, kudu eroh endi sing apik karo elek, ibuk percaya karo awakmu dadi awakmu ya kudu iso njaga kepercayaane ibuk”
duh, aku sedikit trenyuh setiap mendengarnya. Karena menurutku sebagai seorang anak perempuan mendapat kepercayaan dari orang tua itu sangat mahal harganya. Masih banyak teman-teman di luar sana yang harus berbohong hanya untuk pergi Karena dilarang orang tuanya untuk ini dan itu. Untung saja kedua orang tuaku tidak seperti itu. Beliau tau aku yang notabene masih seorang remaja labil kalau dikekang bakal berontak. Jadi mereka memilih membebaskanku walau dengan berbagai kata “tapi” dan syarat.


Keesokannya harinya pagi-pagi aku bersiap, aku membawa 3 mie instan, sweater, peralatan makan, facial foam dan sikat gigi. Ehm mungkin waktu itu aku agak blank atau memang aku nggak mau repot bawa banyak barang, padahal sudah tahu mau nginep tapi nggak bawa baju ganti (aku fikir disana nggak ada air buat mandi, pada akhirnya aku menyesali keputusanku ini) ataupun sandal, wktu itu aku pakai sepatu karena aku sempat browsing tentang pantai Pangi, di artikel yang aku baca untuk mencapai pantai Pangi harus jalan kaki, jalananya terjal dan sangat jelek jadi aku putuskan pakai sepatu (tentu saja aku juga menyesali keputusan ku yg tidak membwa sandal). Sekitar jam 9 mbak Niken datang menjemput, dan kami berangkat cussssssss….!!!

Sebelum berangkat ke pantai pangi, kami transit dulu di SMAN 1 Rejotangan, SMA mbak Niken. Karena disanalah tempat yang telah disepakati untuk berkumpul. Sampai disana ternyata sudah banyak yang menunngu. Dan kalian tahu, ternyata aku kenal beberapa teman mbak Niken mereka juga kakak kelasku waktu SMP, mereka sangat enak diajak bicara atau bercanda jadi aku tidak mengalami miskomunikasi hahaha. Oh ya, Kami kesana juga untuk meminjam beberapa tongkat dan tali pramuka yang Akan digunakan untuk mendirikan tenda nanti. Kata mbak Niken awalnya yang mau ikut banyak, tapi pas hari-H banyak yang membatakan dengan berbagai alasan. Sehingga yang berangkat hanya 10 orang, itupun hanya aku dan mbak Niken sebagai cewek dalam rombongan. But, it’s no problem cz we’re strong women yeah! aku ingat apa yang dikatakan mbak Niken saat tau kalau Cuma kami berdua cewek yang ikut “alhamdulillah, sujokno podo gak melu, kanca-kancaku kae podo remponge gek yo aku ra patek kenal karo cah wedoke soale bedo kelas” hahahaha mbak Niken ini memang sedikit tomboy, orangnya santai asyik, pokoknya nggak kayak kebanyakan cewek lainya deh. Setelah Persiapan selesai, dimulailah perjalanan kami menuju pantai Pangi.
Karena aku masih cewek, dan mak Niken juga masih cewek walupun Cuma 3/4nya, kami memutuskan untuk dibonceng cowok. aku dibonceng sama anu, aku lupa namanya ding. Ya pokoknya mas yang bonceng aku ini agak pendiam jadi aku nggak banyak bicara saat di jalan. aku Cuma membayangkan seperti apa pantai pangi itu, bagus nggak yaaa….
Ternyata akses menuju pantai Pangi ini memang sangat ekstrem, jalannya rusak, menanjak dan agak sempit. Ternyata persiapanku memakai sepatu tidak diperlukan, karena para cowok2 ini nekat naik motor sampai pantai, dan yah mereka berhasil sih.. ehm, mataku benar2 dimanjakan dengan pemandangan yang spektakuler banget dehhhh, apalagi pantai Pangi ini masih sepi. Jadi kayak pantai pribadi gituu duh. Kami duduk-duduk sebentar istirahat, tak beberapa lama kami pun mendirikan tenda untuk tidur nanti malam.
Tenda berdiri tegak tak tergoyahkan, kamipun melanjutkan memasak makanan. Oh ya, walaupun masih tergolong sepi dan jauh dari pemukiman untuk mendapatkan air sangat mudah, ada kran air. Waktu itu kami hanya memasak mie. Aku fikir, bakal disibukan dengan mencari kayu dan membuat api seperti biasanya saat aku camping. Tapi ternyata para cowok ini sudah mempersiapkan segalanya looo. Bahkan Mereka bawa kompor. Aku dan Mbak Niken sempet kagetlah, wong biasanya kami ini kalau camping nggembel. Hahaha
Habis makan kenyang dan cuci piring, kami kembali menikmati keindahan pantai. Kami menjelajahi setiap sudut pantai. Dan disinilah aku mulai menyesal karena tidak bawa sandal. Pasir pantainya sangat panas pada siang hari, walaupun angin bertiup kencang dan tergolong dingin. Huh, apa boleh buat aku rampas saja sandal dari salah satu temen mbak Niken hahahaa. Yaa gapapalah, aku kan masih cewek dan mereka cowok.
Di samping pantai ini terdapat sungai. Sungainya cukup lebar, bersih dan airnya sangat segarrrr. Para cowok pada mandi di sungai tersebut. Duuuh pengennya. Tapi aku ingat kalau aku nggak bawa baju ganti, tapi apalah dayaku yang bener2 kepengen ini. Akhirnya aku nekat basah2an dan menikmati air disungai dengan lainnya ahaha
Yah, akhirnya sampai sore aku pake baju baju dan celana yang basah. Serius deh, baju basah dan kering di badan itu awesome bangeeeeettttttt. Lagipula pantainya berangin dan panas, jadi bajuku cepet kering.
Sayangnya pantai pangi ini menghadap ke selatan, hilang sudah harapanku untuk bisa melihat sunset/sunrise di pantai. Sore harinya, langit sangaat indah. Seindah kamu di mataku, eh. saat itu ada beberapa nelayan yang sedang memancing. Kami duduk di depan tenda untuk menikmati hamparan pemandangan pantai selatan kota Blitar ini sekali lagi.
Hari mulai gelap, kami menyalakan lampu minyak yang dibawa sama temannya mbak Niken. Karena disini tidak ada lampu sama sekali, satu-satunya penerangan cuma dari beberapa lampu minyak yang kami bawa. Benar-benar jauh dari polusi cahaya juga polusi suara. Yang terdengar hanya suara ombak, sangat menenangkan.
Acara kami malam ini adalah bakaran ayam, yeyyyy!! Setelah mengumpulan kayu dan menyalakan api, acara dimulai. Yang bikin acara ini istimewa adalah kami semacam ratu karena biasanya jika camping sama mbak Niken dan teman yang lain, kami para cewek yg disibukan dengan ini itu, apalagi dalam hal urusan masak-memasak. Tapi kali ini, kami duduk manis mononton para cowok membakar ayam-ayam imut tersebut hahaha.
Selesai makan ayam, tanpa nasi karena tidak ada yang bawa nasi hmmm. Kami membuat kopi dan teh. Udara dipantai sangat dingin, berangin, dan pasir pantainnya dingin sekali. Ini adalah kedua kalinya aku menyesal karena tidak bawa sandal huhu.



Kami menikmati malam bersama bintang dipinggir pantai ditemani ombak, kopi, teh dan makanan ringan yg dibawa dari rumah. Duuhh ini hal yang sangat berkesan menurutku. Jujur saja, karena bintang-bintang di langit sangat terlihat jelas. Sangaaaaaat indah. Cahaya purba. Bahkan aku melihat banyak bintang jatuh. Apalagi aku yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini sangat terpesona. Sayang, kami tidak mengabadikan penampakan bintang-bintang karena kamera hp kami tidak bisa menjangkau pemandangan indah diatas.
Aku lupa jam berapa kami kembali ke tenda, karena terlalu terpesona dengan semua yang ada disekitarku, dengan semua yang kulihat. Tapi yang jelas waktu memutuskan kembali ketenda aku sudah tidak kuat dengan udara dinginnya. Masuk tenda, aku dan mbak niken pun tidurrrrr. zZzZzzZZz

Besoknya aku bangun jam 5. Aku sedikit kecewa karena tidak bisa melihat sunrise, tapi mataku ini termanjakan oleh pemandangan langit saat itu. Warna ungu kemerahan. Sangat indah. Aku dan mbak Niken kembali menjelajahi pantai, untuk melihat2 pemandangan.

Setelah sarapan. Kami bersantai. Eeehmm sebenarnya saya kembali tidur hehe. Dan aku bangun (mungkin) pk 9 atau 10 aku lupa. Saat bangun tidur aku kelaparan. Aku masak mie lagi, tapi apalah dayaku, aku memelihara anaconda di perutku. Jadi setelah makan mie aku masih lapar.
Siang itu panas, tapi sangat dingin karena angin. Tak lama ada bapak2 penjual bakso keliling di pantai itu, dan untuk memberi makan anaconda yg masih kelapanran aku memutuskan beli bakso. Hmmm makan bakso dipinggir pantai yg sepi kayak gini emang beda rasanya. Apalagi ditemani lagu Kemesraannya Iwan Fals duhhh. mesraaaa sekali.
Kami memutuskan untuk bersiap pulang, membongkar tenda dan membersihkan sampah. Aku sangat tidak ingin pulang. Aku masih ingin semalam lagi disini, melihat bintang lagi. Tapi harus pulang. Karena bekal kami sudah habis. Sebenarnya tidak masalah kalau mau menginap semalam lagi katanya. Tapi ya itu tadi, kami bakal kelaparan kalau maksa pulang besoknya.
Sungguh, aku tidak ingin hari itu cepat berlalu. Waktu itu aku merengek ke mbak Niken dan berkata, Aku urung sir mulih mbak keeeeen huuuhu *puppy eyes*. Tapi tetap saja kami pulang sore itu. Meninggalkan pantai Pangi, meninggalkan  Blitar menuju Tulungagung tercinta dan menuju rumah masing-masing tentunya.
aku memang sudah beberapa kali camping. Tapi untuk camping di pantai baru pertama kali ini kurasakan. Dan rasanya? Ternyata benar Rasanya bikin ketagihan..

jadi kapan kamu ngajak aku camping di pantai?

Nb: foto dari ig @aliesofy

Ujian Kesabaran dan Sunrise Pantai Sine

Pantai Sine. Mungkin sebagian orang Tulungagung sudah tidak asing lagi mendengar nama pantai tersebut. Bagi yang belum tahu, Pantai Sine merupakan salah satu pantai di kota Tulungagung. Terletak di Desa Kalibatur, Kec.Kalidawir, sekitar 35 Km arah Selatan Kota Tulungagung. Ombak di Pantai Sine cukup besar, penampakan pantai ini berupa teluk, selain itu, Pantai Sine menghadap ke Timur. Jadi otomatis kita bisa melihat sunrise yang aduhai di tepi pantai apabila mau berjuang bangun pagi dan pergi ke sana, tentunya diwaktu yg tepat. Bila masih mendung silahkan ke Gunung Budheg untuk melihat awan yang berarak.

Cerita kali ini bermula pada pada malam tahun baru. Waktu itu saya dan teman-teman Reyog Cahaya Budaya mengadakan acara bakaran ayam di rumah Mas Gibrellyn a.k.a Ayam. Lho, Kok ayam bakar ayam? Ah u know what I mean lahh.

Selesai acara tsb, para anak laki2 ingin pergi ke pantai sine, ingin melihat sunrise katanya. Wah, saya yang gampang penasaran dan sangat ingin tahu ini benar2 kepingin ikut mereka. Tapi apa daya, diskriminasi gender masih sangat kental saat itu. Jadi ndak boleh ikut. saya gondok ketika tidak boleh melakukan sesuatu dengan alasan bahwa saya adalah perempuan. Hah!

Saya tahu maksud mereka baik, tapi tetap saja kesal. Kenapa? Ya karena saya merasa tidak dipercaya. Padahal saya selalu percaya sama mereka. Percaya bahwa mereka bisa menjaga saya. Percaya bahwa saya ndak bakal ngrepotin mereka. Hmm ya kalaupun ngrepotin, dikitlah ndak banyak haha. Tapi tetap saja ndak boleh ikut huuuu. saya merasa patah hati dan tersakiti apalagi setelah melihat foto mereka yg dijadikan DP BBM, duh tambah sakit, hati adek bang…

 Setelah malam tahun baru tersebut anak2 jadi sering pergi ke pantai sine untuk melihat sunrise, dan ya saya selalu minta ikut. 2 kali mereka meng-iya-kan. 2 kali pula saya ndak bisa bangun kemudian ditingal. Huuuu! tapi kalian pernah kan dengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”? yah,  itu artinya saya nggak salah. Iyaa tho?
Tentunya saya ndak bakal menyerah dengan mudah. Dengan kekuatan superr saya maksa dan terus memaksa mas ebin, maman dan kudet buat kesana lagi. And finally I got all I want. Yey! Setelah sekian lama menunggu dan berharap minggu kemarin saya diajak ke pantai Sine. Semacam pdkt lama dan akhirnya di tembak gitu deh heuheu. Padahal hari minggu sebelumnya mereka baru kesana. Entah mereka memang ingin kesana lagi atau Cuma Menuhin permintaanku biar nggak rewel hehe

Hari-H pun tiba, saya dijemput kudhet di rumah sekitar pukul 3.30 am. Sebelum berangkat kami berkumpul di rumah mas ebin untuk menunggu yg lain. Pukul 4.00 am, kami berangkat. Ada 10 anak yg ikut waktu itu, and I’m the only woman. But it’s no problem, totally I trust them. Saya di bonceng mas ebin, kebetulan di belakang ada veri (a.k.a muklis) dan maman yg bawa kecruk (gitar kecil), mereka bernyanyi sepanjang jalan.

Untuk pergi ke pantai sine kami harus melewati bukit. tenang, jalannya sudah bagus kok. Tapi tidak ada lampu dan masih banyak pohon di kanan-kiri jalan. Karena jauh dari polusi cahaya, bintang-bintang di langit jadi terlihat sangat jelas. It’s awesome!! Sepanjang jalan melihat bintang dan mendengarkan maman bernyanyi diiringi veri dengan kecruknya hahah. Mereka membawakan beberapa lagu dari Payung Teduh dan Iwan fals. Yah walaupun suara maman ndak seberapa bagus, tapi tak apalah paling tidak pemandangan diatas sudah bagus.



Sesampainya di pantai sine, saya langsung turun dan menghambur ke pantai. perasaan kecewa mulai menghampiri. Ah tapi untunglah saya sudah biasa dikecewakan, memang sudah nasib jomblo sering dikecawakan. Ternyata langit mendung. Itulah mengapa, kalau mau lihat sunrise di pantai sine harus pada waktu yang tepat. 

Apa boleh buat Kami hanya bisa menunggu. Dan, Perlahan tapi pasti sang mentari mulai menampakan diri. Sama seperti saya yang menunggu kamu, bedanya kamu ndak pernah menampakan diri sampai sekarang. Hm, indah sekali. Tak ketinggalan, Kami menyempatkan diri berfoto, berlari-lari di pantai dan main air.

Sekitar jam setengah 7, kami bersiap pulang. Lagi pula matahari sudah tinggi. Dalam perjalanan pulang, kami mampir di warung nasi pecel untuk sarapan. Dengan sok gentlenya mereka tidak membiarkan saya membayar nasi pecel sendiri alias mau dibayarin sama mereka hahha.

Pagi ini benar-benar sempurna..

By the way, ini adalah pengalaman pertama kali melihat sunrise di pantai bagiku. Kalau dipikir-pikir saya banyak mengalami pengalaman pertama bersama mereka (read: teman2 Cahaya Budaya). Semoga saja masih banyak “pertama kali” lainnya yg akan saya lewati bersama mereka.

Hari Kartini

                     Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Hari perempuan-nya Indonesia kali ya.. hm saya yakin kalau kalian pasti sudah tau dan kenal siapa Kartini itu. Tapi kalau memang belum kenal, ya silahkan kenalan dulu. Perlu diingatkan kenalan itu ndak dosa. Jadi para jomblo nggk perlu khawatir, banyak kenalan sama orang siapa tau ada yg jodoh. Kalau sudah banyak kenalan tapi ndak ada yg jodoh, berarti yo wis nasibmu ngenes mblo!

                  Seperti biasa, setiap tgl 21 April sekolahku ̶̶ SMAN 1 Ngunut. selalu memperingati Hari Kartini dan mengadakan lomba-lomba untuk menyemaraki peringatan tsb. Tahun ini ada 3 lomba, yaitu Fashion Show ̶̶ lomba yg selalu ada setiap tahun. Melukis batik, dan lomba memasak.
Seminggu sebelum hari-H, setiap kelas pasti sibuk memilih perwakilannya untuk ikut lomba2 itu. Kelasku pun juga sibuk memilih anak-anak manusia untuk diberi jabatan sebagai perwakilan kelas. Tidak ada masalah ketika pemilihan untuk lomba memasak dan melukis batik. Tapi semua berubah ketika pemilihan perwakilan untuk lomba Fashion Show menyerang!

                 Tiba-tiba semua anak manusia ini kehilangan kesadaran diri alias pingsan dan pura-pura mati. 33 manusia jahanam ini nggak ada yg mau disuruh naik panggung dan merepotkan diri ̶ termasuk saya, karena tahun kemarin saya sudah merasakan betapa repotnya ikut Fashion Show tsb. Jadi untuk tahun ini, maaf saja tidak terimakasih. saya nggak mau.

                 Jalan satu-satunya dgn mengatas namakan keadilan, kelasku menggunakan cara klise yang membuat jantung setiap anak berdegup. karena dengan cara ini setiap anak punya peluang untuk terpilih. Apalagi kalau bukan “kopyokan”. Bak arisan nama kami satu persatu ditulis dikertas dan dimasukan kotak ̶̶ kotak amal, karena waktu itu hari jum’at kami memilih memanfaatkan kotak yg tersedia. Bedanya kalau arisan saya pasti pingin nama saya yg keluar, tapi kalau waktu itu amit-amit deh jangan sampe…

                   Keadaan yg mencekam terjadi beberapa detik setelah semua nama masuk ̶̶ Fyi, kami melakukan 2 kali pengocokan untuk memilih perwakilan cewek dan cowok secara terpisah. ternyata yang keluar adalah jeng..jengg…. ketua kelas membuka daaaan, IFA! Yeeeyyyyyyy semua bersorak gembira kecuali Ifa tentu saja. Dia sedang asik meratapi nasibnya. perwakilan cowok adalah abang Roma a.k.a Romadhon, dan sepertinya abang Roma “nrima ing pandum”, karena dia terlihat pasrah.

                    2 hari berlalu stlh pemilihan, Ifa masih merengek minta digantikan dan tentu saja tidak ada yang mau meggantikannya. Sungguh tragis nasibmu Fa! Lagi pula kamu harus sportif hiyaaaaa. Dia juga smpat merengek ke saya, tapi spt yg saya ktakn tadi saya nggk mau. Lagi Pula saya sudah di booking sama Pak Sis untuk acara peresmian gedung kesenian dan ekstra karawitan yang bertepatan dengan peringatn hari kartini itu. Fyi again, di sekolahku baru dibangun gedung kesenian dan baru ada ekstra karawitan, kebetulan saya ikut ekstra tsb, em dan Pak Sis adalah coordinator ekskul karawitan.

              Ifa terus saja merengek dan mengancam tidak masuk sekolah saat hari-H, ah kamu benar2 pengecut fa, maaf saja tapi kenyataannya memang spt itu. Akhirnya kami mengadakan pemilihan ulang kedua kalinya, calon terpilih tidak setuju, pemilihan ketiga calon juga tidak setuju. Untuk apa diadakan kopyokan apabila semua yg terpilih punya hak untuk menolak ha? Nggak ada gunanya! Cuma buang2 waktu. bahkan smpat akan terjadi KKN, tapi untuk terlihat adil maka dipakailah kopyokan dan cara kopyokan hanya sebatas formalitas karena kedua calon sudah ditentukan. Saya kasian sama kedua anak yg akan terpilih secara tidak adil itu. Untunglah hal tsb tidak jadi dilaksanakan.



                         Akhirnya sebelum kami melakukan pemilihan keempat, ketua kelas mengeluarkan ultimatum, siapun yang terpilih tidak boleh menolak. Apabila menolak silahkan membayar denda kelas ke pihak sekolah sebesar Rp 500.000,-. Perlu diketahui lomba2 diatas hukumnya wajib.

                              Ya sepertinya ultimatum tsb bekerja, pengocokan keempat yang terpilih adalah Kartika Riza a.k.a Seho dan (sekali lagi) bang Roma. Ya mungkin memang sudah nasib mu Rom jadi perwakilan kelas untuk lomba ini.
Pada hari-H semua berjalan lancar. Perayaan di buka dengan upacara dan dilanjutkan lomba2. Lomba diadakan di lapangan tengah SMAN 1 NGUNUT. Sayangnya saya ndak mengikuti acara tsb secara keseluruhan, karena saya harus menunaikan tugas sebagai anak manusia yg mengikuti ekskul karawitan tadi.

Anyway, Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia!

Kamis, 28 Januari 2016

Recommended: Sang Guru, Haidar Musyafa

              Sang Guru, ditulis oleh Haidar Musyafa yang bercerita tentang biografi Ki Hadjar Dewantara, kehidupan, pemikiran dan perjuangan pendiri Tamansiswa. Bagi kalian yang suka baca novel/buku, saya sangat menyarankan untuk membaca novel ini...        
          
Sebelum saya membaca novel ini, saya mengenal KHD melalui pelajaran sejarah dan beberapa artikel yang pernah saya baca. saya cenderung tidak terlalu "ingin tahu" tentang KHD. Bahkan awal melihat novel ini saya tidak tertarik, tapi karena waktu itu membosankan dan kebetulan buku ini tidak dibaca yang punya ya saya baca.

Ternyata saya kecanduan dengan buku ini, isinya sangat menarik bagi saya. Karena yang punya belum selesai membaca jadi saya harus dtg kermhnya hanya untuk baca novel ini. Tapi saya juga merasa bersalah, karena yang baca 2 org halamannya jadi banyak yg terlipat untuk menandai halaman yg terakhir dibaca.             

Dan setelah saya membca novel ini saya sgt terharu dan kagum dgn perjuangan seorang KHD dlm mewujudkan gagasan2nya di bidang pendidikan. Beliau yg sangat mencintai seni dan sastra adlah seorang yg bersifat tegas dan keras namun tetap lembut. Kecintaannya trhdp bangsa dan tanah air telah membawanya keluar masuk penjara bahkan sempat diasingkan ke negeri belanda. Tapi beliau tdk pernah pts asa dlm mewujudkan cita2nya.          

  Siang ini saya telah selesai membaca novel sang guru. Sama seperti patah hati ketika putus cinta, saya juga patah hati ketika membaca epilog novel Sang Guru. Hati saya hancur dan saya sangat merasa kehilangan Ki Hajar Dewantara. Mungkin karena terlalu tenggelam kedalam kisahnya, saya seakan tidak mau kisah beliau berhenti sampai disini.  ada sebuah percakapan yg membuat hati saya trenyuh di epilog novel tsb, begini kiranya "Mengapa engkau sedih Nyi?! bukankah setiap yg bernyawa pasti akan mati, kembali kepada Dzat Yang Maha Hidup?" Kata Ki Hadjar yg nyaris tk terdengar. "Yang akan mati ini bukan Ki Hadjar, Nyi! Bukan Ki Hadjar Dewantara yg mati! Yang akan pergi ini hanya wadah. Ki Hadjar Dewantara akan tetap hidup di hati rakyat Indonesia, Nyi!"entah kenapa membaca kata2 tsb membuat saya meneteskan air mata dan sungguh saya sgt merasa kehilangan.